Selasa, 12 November 2013

Buku Tahta Mahameru

 TAHTA MAHAMERU

“Mahameru… Puncak Abadi Para Dewa.” Ikhsan memandang Mahameru lagi. “Apakah itu artinya… Allah tidak punya tempat di sana?”
Faras, si gadis kutu buku asal desa Ranu Pane hanya bisa mengangkat tinggi kedua alisnya.

“Seperti aku, kamu juga tidak tahu banyak tentang tahta Mahameru?” tanyanya lagi.

Tahta Mahameru?

Itulah
salah satu dari tiga pertanyaan tak terjawab dari Ikhsan kepada Faras.
Masing-masing diajukan dalam tiga pertemuan singkat mereka sebelum
mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Pendaki gunung berwatak
keras dari keluarga yang penuh kebencian ini menjadikan Mahameru
sebagai peredam sesaat jiwanya yang penuh dendam. Namun kegetiran
semakin memuncak sampai akhirnya ia benar-benar membalas dendam dan
hidup terasing. Faras, sang teman baik yang merasa bersalah dalam
terseretnya Ikhsan ke ujung tanduk menelusur jejak sang pendaki yang
hingga hingga melintasi pulau. Ia ditakdirkan bertemu dan seperjalanan
panjang dengan Mareta, seseorang yang ternyata terkait dalam dendam
keluarga Ikhsan.

Apa
sebenarnya yang terjadi pada Ikhsan setelah menghilang tiga tahun dari
Faras? Lalu masih pentingkah Faras mengungkap semua jawab atas
pertanyaan esensial Ikhsan yang dulu, melalui keajaiban demi keajaiban
dalam pendakian Mahameru yang mungkin tak terlihat selama ini?

Tahta Mahameru,
sebuah novel yang tak hanya menyajikan rangkaian peristiwa luar biasa
tentang kehidupan anak manusia, tapi juga menyuguhkan petualangan
tokoh-tokohnya dari satu daerah ke daerah lain, menghadirkan sisi
religi yang sangat menggugah, dan ikut mengupas latar adat suku Bugis
yang kental dan terkenal akan kapal pinisi mereka. Serta tentu saja,
pendakian Gunung Mahameru yang berbeda dari biasanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar